Helm yang menggantung di setang, sabuk pengaman yang diabaikan, hingga telepon seluler yang tetap dimainkan saat berkendara menjadi potret kecil rendahnya disiplin di jalan raya.
Banda Aceh-Ada kebiasaan yang sulit dijelaskan di jalan raya. Sebagian pengendara baru sibuk mencari helm ketika melihat polisi. Pengemudi yang sebelumnya membiarkan sabuk pengaman terlepas mendadak memasangnya saat mendekati petugas.
Seolah-olah keselamatan hanya diperlukan ketika ada kemungkinan ditilang. Padahal, kecelakaan tidak mengenal jadwal operasi kepolisian. Benturan tidak bertanya apakah perjalanan seseorang hanya beberapa ratus meter atau puluhan kilometer. Jalan yang terlihat sepi pun tidak pernah menjanjikan perjalanan tanpa risiko.
Alasan seperti rumah dekat, hanya keluar sebentar, atau tidak ada polisi di sekitar sering menjadi pembenaran untuk mengabaikan aturan. Masalahnya, kecelakaan tidak pernah berkompromi dengan alasan.
Pada Ahad, 1 November 2026, sekitar pukul 11.00 WIB, personel Satgas 3 Kamseltibcarlantas Polda Aceh mendatangi Pelabuhan Ulee Lheue dan Pantai Maha Corner, Banda Aceh. Kegiatan itu merupakan bagian dari Operasi Patuh Seulawah 2026.
Petugas mengingatkan masyarakat agar menggunakan helm berstandar SNI, mengenakan sabuk pengaman, tidak menggunakan telepon seluler saat berkendara, serta tidak memaksakan diri mengemudi ketika lelah atau tidak fit.
Imbauan itu terdengar sederhana. Namun, kenyataan bahwa pesan serupa harus terus disampaikan menunjukkan satu persoalan: mengetahui aturan belum tentu membuat seseorang bersedia mematuhinya.
Keselamatan Bukan Sekadar Takut Ditilang
Kabidhumas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto mengatakan Operasi Patuh Seulawah 2026 tidak hanya mengedepankan penindakan, tetapi juga langkah preemtif dan preventif melalui edukasi kepada masyarakat.
Menurut dia, operasi tersebut bertujuan meningkatkan disiplin berlalu lintas, mengurangi pelanggaran dan kecelakaan, serta menciptakan situasi lalu lintas yang aman, tertib, dan lancar.
Joko menegaskan kepatuhan seharusnya tumbuh dari kesadaran, bukan semata-mata karena kehadiran petugas kepolisian.
Pernyataan itu penting. Sebab, polisi tidak mungkin berdiri di setiap persimpangan, mengawasi setiap pengendara, atau memastikan setiap orang mengenakan helm hingga tiba di rumah.
Helm bukan aksesori untuk melewati pemeriksaan. Sabuk pengaman bukan perlengkapan yang hanya berguna ketika polisi terlihat. Keduanya merupakan perlindungan bagi manusia yang menggunakannya.
Begitu pula telepon seluler. Membaca pesan beberapa detik saat kendaraan bergerak mungkin dianggap sepele. Tetapi perhatian yang teralihkan dapat membuat pengemudi terlambat bereaksi ketika bahaya muncul.
Mengemudi dalam keadaan mengantuk atau kelelahan juga bukan bentuk keberanian. Itu keputusan yang dapat membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain.
Pantai Pun Tidak Mengenal Keberuntungan
Edukasi keselamatan dalam Operasi Patuh Seulawah 2026 tidak hanya menyasar pengguna jalan. Di kawasan Pantai Maha Corner, petugas turut mengingatkan pengunjung agar menjaga barang berharga, menghindari area berenang yang berbahaya, serta memperhatikan cuaca dan kondisi alam.
Pantai memang tempat mencari kesenangan. Namun, laut tidak mengenal alasan seseorang sedang berlibur. Ombak tidak berhenti karena pengunjung ingin berenang lebih jauh. Arus tidak bisa diajak berunding hanya karena seseorang merasa mampu mengatasinya.
Larangan berenang di lokasi berbahaya bukanlah upaya merampas kegembiraan. Justru peringatan itu dibuat agar pengunjung dapat menikmati wisata tanpa membawa pulang musibah.
Kewaspadaan juga diperlukan terhadap barang bawaan. Liburan yang seharusnya menyenangkan bisa berubah menjadi pengalaman buruk ketika pengunjung lengah menjaga barang berharga.
Operasi Berakhir, Risiko Tidak
Operasi Patuh memiliki batas waktu. Tetapi keselamatan tidak mengenal masa berlaku. Ketika petugas kembali ke kantor, jalan raya tetap dipenuhi kendaraan. Ketika sosialisasi selesai, risiko kecelakaan tetap ada.
Karena itu, keberhasilan operasi tidak cukup diukur dari jumlah pengendara yang ditegur atau masyarakat yang menerima imbauan. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan perilaku setelah polisi meninggalkan lokasi.
Apakah helm tetap dikenakan ketika tidak ada razia? Apakah sabuk pengaman tetap digunakan meski perjalanan hanya sebentar? Apakah telepon seluler tetap disimpan ketika kendaraan bergerak? Jika jawabannya tidak, kepatuhan masih sebatas pertunjukan di hadapan petugas.
Masyarakat tidak perlu menunggu kecelakaan untuk memahami fungsi helm. Tidak perlu kehilangan anggota keluarga untuk menyadari pentingnya sabuk pengaman. Dan tidak perlu mengalami musibah di laut untuk mengerti bahwa alam memiliki risiko yang harus dihormati.
Surat tilang mungkin bisa dibayar. Kendaraan rusak mungkin bisa diperbaiki. Namun, nyawa yang hilang tidak dapat dikembalikan.
Jalan raya bukan tempat menguji keberuntungan. Keselamatan bukan soal siapa yang paling berani mengambil risiko, melainkan siapa yang cukup bijak untuk menghindarinya. Sebab, tujuan perjalanan bukan sekadar tiba lebih cepat. Melainkan pulang dengan selamat. []











