Cara kerjanya relatif sederhana. Merchant memasukkan nominal belanja, kemudian sistem menampilkan kode QR dinamis sesuai nilai transaksi.
Banda Aceh-Di tengah kesibukan melayani pembeli, pedagang tak selalu punya waktu untuk memeriksa layar telepon setiap kali pelanggan membayar dengan QRIS.
Ada antrean yang harus diurus, barang yang harus disiapkan, dan satu pertanyaan yang tak boleh luput: apakah uang benar-benar sudah masuk?
Bank Aceh Syariah bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh menawarkan solusi melalui QRIS Dinamis Soundbox.
Perangkat ini mengeluarkan notifikasi suara ketika pembayaran berhasil, membantu pedagang mengetahui status transaksi tanpa harus terus-menerus memeriksa aplikasi.
Teknologi tersebut diperkenalkan dalam rangkaian pembukaan Meuseuraya Festival 2026 di Balee Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, Jumat, 23 Oktober 2026.
Kolaborasi ini disebut sebagai model kerja sama pertama antara Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Indonesia di Indonesia dalam implementasi layanan tersebut.
Peluncuran itu menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan pembayaran digital di Aceh, terutama di kalangan pelaku usaha yang membutuhkan transaksi cepat dan praktis.
Ketika pembayaran tak lagi sekadar pindai kode
Cara kerjanya relatif sederhana. Merchant memasukkan nominal belanja, kemudian sistem menampilkan kode QR dinamis sesuai nilai transaksi.
Konsumen memindai kode tersebut menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS dan menyelesaikan pembayaran.
Ketika transaksi berhasil, Soundbox mengeluarkan pemberitahuan suara. Pedagang tak perlu hanya mengandalkan tangkapan layar atau bukti pembayaran yang ditunjukkan pelanggan.
Bagi usaha dengan frekuensi transaksi tinggi, fitur ini berpotensi memangkas waktu pemeriksaan pembayaran.
Risiko kekeliruan memasukkan nominal juga dapat ditekan karena nilai transaksi telah ditentukan melalui kode QR yang dibuat merchant.
Namun, bunyi notifikasi bukan alasan untuk mengabaikan prosedur pemeriksaan. Pedagang tetap perlu memastikan transaksi tercatat dalam sistem resmi, terutama ketika menghadapi gangguan jaringan atau kondisi yang membuat status pembayaran belum jelas.
Di titik inilah teknologi tersebut diuji: bukan hanya dari kemampuannya mengeluarkan suara, melainkan dari keandalannya membantu pedagang mengelola transaksi sehari-hari.
154 perangkat telah disalurkan
Direktur Dana dan Jasa Bank Aceh, M. Hendra Supardi, melalui Sekretariat Perusahaan, Ilham Novrizal, menyampaikan bahwa sebanyak 154 perangkat QRIS Dinamis Soundbox telah didistribusikan kepada merchant pengguna QRIS Bank Aceh.
Bank Aceh merencanakan penyaluran 246 perangkat tambahan pada tahap berikutnya. Penambahan itu diharapkan memperluas pemanfaatan layanan di berbagai sektor usaha.
“Kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam memperkuat ekosistem pembayaran digital di Aceh. Melalui QRIS Dinamis Soundbox, kami ingin menghadirkan kemudahan bagi merchant dalam memantau transaksi sekaligus meningkatkan kenyamanan dan efisiensi pelayanan kepada pelanggan,” ujar Ilham.
Rencana penyaluran tambahan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan layanan tidak berhenti pada seremoni peluncuran.
Tantangan berikutnya adalah memastikan perangkat benar-benar digunakan dan memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha.
Mengukur manfaat di lapangan
Digitalisasi pembayaran kerap dipandang sebagai bagian dari modernisasi ekonomi.
Akan tetapi, bagi pedagang kecil, ukuran keberhasilannya jauh lebih konkret: transaksi lebih mudah dipantau, pelayanan lebih cepat, dan pencatatan pembayaran lebih tertib.
Karena itu, perluasan QRIS Dinamis Soundbox juga perlu diikuti dengan pendampingan merchant, edukasi keamanan transaksi, dan evaluasi penggunaan perangkat.
Tingkat pemanfaatan, pertumbuhan transaksi, serta pengalaman pedagang dapat menjadi indikator untuk mengukur efektivitas program.
Bank Aceh dan Bank Indonesia Provinsi Aceh menempatkan kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya memperluas adopsi pembayaran nontunai dan mendukung transformasi digital UMKM.
Bagi Aceh, pekerjaan berikutnya bukan sekadar memperbanyak perangkat. Yang lebih penting adalah memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara konsisten oleh pelaku usaha, termasuk mereka yang baru beralih dari transaksi tunai ke pembayaran digital.
Sebab, perubahan sistem pembayaran pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat. Ukurannya terletak pada seberapa jauh teknologi mampu menjawab kebutuhan orang-orang yang menggunakannya setiap hari. []










