Bagi generasi muda, kebangsaan bukan semata-mata hafalan tentang Pancasila atau simbol negara. Nilai itu diuji dalam kehidupan sehari-hari.
Banda Aceh-Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Dr. Ace Hasan Syadzily, menyambangi Aceh untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan. Kampus menjadi ruang menguji arti persatuan.
Sebab, nasionalisme tak selalu tumbuh dari pidato di podium atau upacara pengibaran bendera. Ia bisa berawal dari ruang kuliah, percakapan antarmahasiswa, hingga kesediaan menerima perbedaan.
Pesan itulah yang dibawa Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Dr. Ace Hasan Syadzily, dalam kunjungan kerjanya ke Aceh, Senin, 2 November 2026.
Kedatangan Ace Hasan di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, disambut Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Dr. Latif Usman. Penyambutan berlangsung di VIP Room bandara, dengan didampingi Dirlantas Polda Aceh Kombes Pol. Deden Supriyatna Imhar.
Namun, agenda utama kunjungan itu bukan sekadar pertemuan pejabat. Ace Hasan dijadwalkan menghadiri program Lemhannas Goes to Campus di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.
Di hadapan kalangan akademisi dan mahasiswa, program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membicarakan kembali makna persatuan, kecintaan terhadap Tanah Air, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bagi generasi muda, kebangsaan bukan semata-mata hafalan tentang Pancasila atau simbol negara. Nilai itu diuji dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana menghormati perbedaan, menjaga toleransi, serta tidak membiarkan perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan.
Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto mengatakan, institusinya mendukung kegiatan yang mendorong penguatan wawasan kebangsaan dan semangat persatuan.
“Penguatan nilai-nilai kebangsaan merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini juga sejalan dengan upaya menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif,” kata Joko.
Ia berharap masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan aman dan nyaman. Pada akhirnya, menjaga Indonesia bukan hanya pekerjaan aparat keamanan atau pejabat negara. Ada tanggung jawab yang sama di pundak mahasiswa dan masyarakat. Sebab, persatuan tidak cukup diucapkan dalam pidato. Ia harus dirawat dalam kehidupan sehari-hari. []











