Mengejar Pagi, Menjaga Nyawa di Persimpangan

Wakapolda Aceh Tinjau Strong Point

Di Simpang Jamboe Tape, waktu seperti sedang diperebutkan.

 

Banda Aceh-Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika kendaraan mulai memenuhi jalanan Banda Aceh. Sepeda motor menyelip di antara mobil.

Klakson sesekali memecah kebisingan. Pengendara menoleh ke jam tangan, menghitung sisa waktu sebelum terlambat tiba di tempat tujuan.

Di Simpang Jamboe Tape, setiap orang seperti memiliki urusan yang tidak bisa ditunda. Ada pegawai yang mengejar absensi, orang tua yang mengantar anak ke sekolah, hingga pedagang yang harus membuka lapak lebih awal.

Di persimpangan itu, kesabaran menjadi barang berharga. Satu kendaraan yang berhenti terlalu lama bisa memicu antrean.

Satu pengendara yang menyerobot dapat mengganggu arus dari arah lain. Jalan raya, yang semestinya menjadi ruang bersama, sesekali berubah menjadi arena saling mendahului.

Pada Senin, 2 November 2026, Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Latif Usman datang meninjau pengaturan lalu lintas pagi atau strong point di persimpangan tersebut.

Ia mengamati personel yang bertugas mengatur kendaraan dan mengurai kepadatan pada jam sibuk. Peninjauan itu dilakukan untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal, sehingga mobilitas warga tetap aman dan lancar.

Kehadiran polisi di persimpangan bukan sekadar urusan mengangkat tangan atau meniup peluit.

Di tengah kendaraan yang bergerak dari berbagai arah, petugas harus memastikan setiap pengguna jalan memperoleh ruang untuk melintas dengan aman.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto mengatakan, strong point merupakan bagian dari pelayanan kepolisian yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kehadiran personel di sejumlah persimpangan dan titik rawan kepadatan bertujuan memberikan rasa aman sekaligus memastikan kelancaran mobilitas masyarakat, terutama pada jam-jam sibuk,” kata Joko, Senin.

Menurut Joko, kegiatan itu juga menjadi bagian dari implementasi program prioritas Quick Wins Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Program tersebut menekankan pelayanan kepolisian yang cepat, responsif, dan humanis.

Polda Aceh, kata dia, akan terus mengoptimalkan pengaturan lalu lintas pada pagi dan sore hari, ketika aktivitas masyarakat meningkat.

Peluit dan Kesabaran

Namun, persoalan lalu lintas tidak selesai hanya dengan menempatkan petugas di persimpangan. Ada faktor lain yang tak kalah menentukan: perilaku pengendara.

Polisi dapat mengatur kendaraan agar tidak saling berebut ruang. Tetapi, mereka tidak selalu bisa mencegah pengendara yang memaksakan diri menerobos antrean atau mengabaikan rambu. Di sinilah disiplin menjadi persoalan bersama.

Jalan raya bukan milik pengendara yang paling cepat, paling besar kendaraannya, atau paling keras bunyi klaksonnya. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menggunakan jalan, termasuk mereka yang berjalan kaki.

Ketika hujan turun, persoalannya menjadi lebih rumit. Jalan licin dan jarak pandang yang berkurang membuat perjalanan membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.

Joko mengimbau masyarakat mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta memastikan kendaraan dalam kondisi baik sebelum digunakan.

Imbauan itu sederhana, tetapi menyangkut sesuatu yang tidak sederhana: keselamatan manusia.

Sebab, setiap orang yang melintas di jalan raya sedang membawa cerita. Ada keluarga yang menunggu di rumah, anak yang menantikan orang tuanya pulang, dan seseorang yang berharap perjalanan hari itu berjalan seperti biasanya.

Pengaturan lalu lintas mungkin terlihat sebagai pekerjaan rutin. Personel datang, berdiri di persimpangan, mengarahkan kendaraan, lalu berganti giliran.

Namun, di balik rutinitas tersebut ada tujuan yang lebih besar daripada sekadar mengurai antrean.

Membuat orang sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Sebab, dalam perlombaan mengejar pagi, tidak ada gunanya menjadi yang paling cepat jika keselamatan justru tertinggal di jalan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed