Begalnya Di Medan, Peneleponnya Di Tibang

Seorang anak melaporkan pembegalan di Medan melalui Call Center 110. Polisi justru menemukan peneleponnya di Banda Aceh.

 

Banda Aceh-Jarak Banda Aceh ke Medan memang ratusan kilometer. Tapi bagi seorang anak di bawah umur, melaporkan begal di kota itu rupanya tak perlu ongkos perjalanan. Cukup mengangkat telepon dan menghubungi Call Center 110.

Masalahnya, begal yang dilaporkan tak kunjung ditemukan. Polisi malah menemukan sesuatu yang lebih dekat: si pelapor berada di kawasan Tibang, Kota Banda Aceh.

Laporan pembegalan itu ternyata palsu. Bukan korban yang sedang mencari pertolongan, melainkan seorang anak yang sedang menguji kesabaran layanan kepolisian.

Sistem Call Center 110 membantu petugas mengetahui lokasi penelepon. Setelah ditelusuri, laporan yang menyebut kejadian di Medan itu justru berasal dari Banda Aceh.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto mengatakan personel kemudian mengidentifikasi penelepon yang masih di bawah umur tersebut.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, anak itu dimintai keterangan di ruang SPKT Polda Aceh. Orang tuanya turut mendampingi. Polisi juga meminta anak tersebut membuat surat pernyataan.

Petugas SPKT tak hanya meminta keterangan. Mereka sekaligus memberikan pelajaran tentang fungsi Call Center 110 kepada anak dan orang tuanya.

Layanan itu, kata polisi, bukan nomor untuk mengarang cerita kriminal, menguji respons petugas, apalagi mencari hiburan di sela waktu luang. Nomor 110 disediakan untuk menerima laporan tindak pidana dan membantu masyarakat yang membutuhkan pelayanan kepolisian.

Joko mengingatkan masyarakat agar tidak membuat laporan palsu atau melakukan panggilan iseng. Setiap panggilan harus berisi informasi yang benar, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ia juga meminta orang tua mengawasi anak-anak agar tidak menyalahgunakan fasilitas darurat tersebut.

“Gunakan layanan Call Center 110 secara bertanggung jawab dan bijak. Ini merupakan salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap tugas kepolisian dalam menjaga kamtibmas,” kata Joko.

Ada pelajaran sederhana dari kejadian ini: melaporkan begal tak harus berada di lokasi kejadian. Tapi jangan sampai polisi justru lebih dulu menemukan si pelapor daripada menemukan begalnya.

Sebab, nomor darurat bukan panggung sandiwara. Di balik panggilan yang dianggap lucu, mungkin ada orang lain yang sedang sungguh-sungguh meminta pertolongan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *