Tentara AS: Kami Tidak Ingin Mati untuk Israel

“Saya mendengar dari mulut para anggota militer kata-kata, ‘Kami tidak ingin mati untuk Israel — kami tidak ingin menjadi pion-pion politik,'” kata seorang pasukan cadangan dan mentor prajurit muda.

 

Moskow-Sejumlah personel militer Amerika Serikat dilaporkan menunjukkan ketidakpuasan terhadap kampanye militer yang menyasar Iran. Seperti diwartakan VIVA.CO.ID dikutip dari ANTARA, laporan tersebut diungkap oleh situs berita HuffPost berdasarkan wawancara dengan anggota militer aktif, pasukan cadangan, serta organisasi yang membela hak-hak personel militer.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sejumlah prajurit menghadapi tekanan psikologis, rasa frustrasi, hingga kelelahan mental akibat keterlibatan dalam konflik. Bahkan, sebagian di antaranya mempertimbangkan untuk mengakhiri karier militer.

“Saya mendengar dari mulut para anggota militer kata-kata, ‘Kami tidak ingin mati untuk Israel — kami tidak ingin menjadi pion-pion politik,'” kata seorang pasukan cadangan dan mentor prajurit muda seperti dikutip dalam laporan tersebut, Senin (23/3/2026).

Laporan itu juga mengungkap bahwa anggota pasukan cadangan lain yang masih menjalin komunikasi dengan militer aktif menyampaikan kondisi serupa terkait menurunnya moral di lapangan. Ketidakpuasan tersebut disebut berkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, serta persoalan moral yang dinilai dapat memengaruhi keberhasilan misi militer.

Selain itu, sejumlah pasukan cadangan menyoroti tidak adanya narasi yang jelas dan konsisten terkait alasan keterlibatan AS bersama Israel dalam konflik melawan Iran, yang turut berkontribusi terhadap menurunnya semangat prajurit.

Sebelumnya, laporan dari CBS News menyebutkan bahwa Pentagon telah menyiapkan rencana detail terkait kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran. Langkah tersebut disiapkan untuk memberikan berbagai opsi militer kepada pemerintahan Donald Trump di tengah meningkatnya eskalasi konflik. Seperti diketahui, serangan militer oleh AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah. []

Baca Juga:  Inggris Kirim Jet-jet Tempur ke Qatar, Ada Apa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *