Begini Tata Cara Shalat Sunnah Qiyamul Lail Nisfu Syaban dan Niatnya

Dalam beberapa riwayat, malam Nisfu Syaban juga dikaitkan dengan anjuran untuk menghidupkannya dengan ibadah.

 

Jakarta-Malam Nisfu Syaban 2026 dimulai sejak waktu magrib pada Senin, 2 Februari 2026, atau malam Selasa, 3 Februari 2026. Pada malam yang istimewa ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah, salah satunya dengan melaksanakan shalat sunnah.

Shalat sunnah qiyamul lail merupakan ibadah malam yang dikerjakan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurut penjelasan para ulama, qiyamul lail mencakup berbagai shalat sunnah malam yang dilaksanakan setelah sholat Isya hingga menjelang Subuh, salah satunya sholat tahajud.

Pelaksanaan sholat sunnah qiyamul lail dilakukan dua rakaat satu salam, sebagaimana sholat sunnah malam pada umumnya. Tidak terdapat ketentuan jumlah rakaat tertentu, sehingga pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan keikhlasan masing-masing.

Apakah Ada Shalat Khusus pada Malam Nisfu Syaban?

Melansir DETIK.COM dikutip dari buku Ingin Tahu? Solat karya Abdul Salam Mohd Zain, shalat Nisfu Syaban disebut sebagai sholat sunnah dua rakaat yang dikerjakan pada malam pertengahan bulan Syaban. Dalam beberapa riwayat, malam Nisfu Syaban juga dikaitkan dengan anjuran untuk menghidupkannya dengan ibadah.

Keutamaan sholat pada malam Nisfu Syaban disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Muawiyah bin Abdillah bin Ja’far. Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW bersabda, “Jika masuk malam pertengahan bulan Syaban maka sholatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Karena Allah turun ke langit dunia ketika matahari terbenam…”

Meski demikian, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait pengkhususan sholat sunnah tertentu pada malam Nisfu Syaban. Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menyatakan pengkhususan sholat sunnah pada malam tersebut termasuk perbuatan bid’ah. Penjelasan ini juga dikemukakan dalam buku Panduan Shalat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah SAW karya Arif Rahman.

Oleh karena itu, daripada melewatkan malam Nisfu Syaban tanpa ibadah, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkannya dengan memperbanyak shalat sunnah yang telah disyariatkan secara umum. Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah sholat qiyamul lail, seperti shalat tahajud, yang memiliki dalil kuat dalam hadits shahih. Rasulullah SAW bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْمَفْرُوضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya: “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah sholat yang dilakukan di malam hari.” (HR Muslim)

Niat Shalat Sunnah Qiyamul Lail

Bagi yang ingin mengerjakan qiyamul lail dengan tahajud, bisa mengawalinya dengan niat berikut:

أصَلَّى سُنَّةَ التَّهَجُدِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ آدَاءً لِلَّهِ تعالى.

Ushalli sunnatat tahajjudi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku niat shalat sunnah tahajud dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

Baca Juga:  BSI Aceh Salurkan 500 Paket Sembako untuk Yatim dan Dhuafa

Tata Cara Shalat Qiyamul Lail Malam Nisfu Syaban

Mengacu buku 5 Shalat Pembangun Jiwa susunan Nasrudin Abd. Rohim, berikut tata cara shalat qiyamul lail dengan tahajud yang dapat dikerjakan pada malam Nisfu Syaban:

Membaca niat sholat tahajud
Takbiratul ihram dilanjutkan membaca doa iftitah
Membaca surah Al-Fatihah
Membaca surah Al-Kafirun (atau surah lainnya)
Rukuk (membaca doa rukuk 3 kali)
I’tidal atau berdiri dari rukuk (membaca doa i’tidal)
Sujud (membaca doa sujud 3 kali)
Duduk di antara dua sujud (membaca doa duduk di antara dua sujud)
Sujud kedua (membaca doa sujud 3 kali)
Berdiri rakaat kedua
Membaca surah Al-Fatihah
Membaca surah Al-Ikhlas (atau surah yang dihafal lainnya)
Rukuk (membaca doa rukuk 3 kali)
I’tidal atau berdiri dari rukuk (membaca doa i’tidal)
Sujud (membaca doa sujud 3 kali)
Duduk di antara dua sujud (membaca doa duduk di antara dua sujud)
Sujud ke dua (membaca doa sujud 3 kali)
Tasyahud akhir (membaca doa tasyahud akhir atau tahiyyat)
Salam
Membaca istighfar 100 kali
Membaca doa khusus sholat tahajud

اَللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ واْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْلِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ

Allâhumma rabbana lakal hamdu. Anta qayyimus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta malikus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta nûrus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haq. Wa wa’dukal haq. Wa liqâ’uka haq. Wa qauluka haq. Wal jannatu haq. Wan nâru haq. Wan nabiyyûna haq. Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haq. Was sâ’atu haq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. Fagfirlî mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a’lantu, wa mâ anta a’lamu bihi minnî. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa lâ haula, wa lâ quwwata illâ billâh.

Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau penegak langit, bumi dan apa yang ada padanya. Bagi-Mulah segala puji, kepunyaan Engkaulah kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada padanya. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah Pemberi cahaya langit dan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah Penguasa langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah Yang Mahabenar, janji-Mu itu benar, bertemu dengan-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, surga itu benar, neraka itu benar, para Nabi itu benar, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu benar, kiamat itu benar. Ya Allah, hanya kepada-Mulah aku berserah diri, kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal. Kepada-Mu aku kembali, kepada-Mu aku mengadu, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka, Ampunilah dosaku yang telah lampau dan yang kemudian, yang aku sembunyikan dan yang terang-terangan, dan yang lebih Engkau ketahui daripada aku. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan yang terakhir. Tidak ada tuhan melainkan Engkau Allah Rabbul alamin. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.”

Setelah melaksanakan sholat qiyamul lail, dikutip dari buku Surat Yasin dan Tahlil yang disusun oleh Muhammad Abdul Karim, terdapat doa yang dapat diamalkan setelah sholat sunnah pada malam Nisfu Syaban. Berikut doanya:

Baca Juga:  Secara Hisab, 1 Ramadan Jatuh pada 19 Februari

Doa Nisfu Syaban Versi Pertama
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلالِ وَ الإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَ الإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللأَجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِينَ وَ أَمَانَ الْخَائِفِينَ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اقْتَارَ رِزْقِي وَ أَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ الحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزِلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ الهِي بِالتَّجَلِّي الأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَ يُبْرُمُ اصْرِفْ عَنِّي مِنَ الْبَلَاءِ مَا أَعْلَمُ وَ مَا لَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِبِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . آمِيْن

Allāhumma yā żal-manni wa lā yamunnu ‘alaik, yā żal-jalāli wal-ikrām, yā żaṭ-ṭauli wal-in’ām, lā ilāha illā anta, ẓahral-lāji’īn, wa jāral-mustajīrīn, wa amānal-khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtani ‘indaka fī ummil-kitābi shaqiyyan aw maḥrūman aw maṭrūdan aw muqtaran ‘alayya fir-rizqi, famḥu Allāhumma bifaḍlika fī ummil-kitābi shaqāwatī wa ḥirmānī wa ṭardī wa iqtāra rizqī, wa athbitnī ‘indaka fī ummil-kitābi sa’īdan marzūqan muwaffaqan lil-khairāt. Fa innaka qulta wa qawluka al-ḥaqq fī kitābikal-munzali ‘alā nabiyyikal-mursal: yamḥullāhu mā yashā’u wa yuthbitu wa ‘indahū ummul-kitāb. Ilāhī bit-tajallīl-a’ẓam fī laylatin-niṣfi min shahri Sha’bānal-mukarram allatī yufraqu fīhā kullu amrin ḥakīm, wa yubram. Iṣrif ‘annī minal-balā’i mā a’lamu wa mā lā a’lam, wa anta ‘allāmul-ghuyūb, biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn. Wa ṣallallāhu ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallam. Āmīn.

Artinya: “Ya Allah, Tuhanku pemilik nikmat, tiada yang bisa memberi nikmat kepada-Mu. Ya Allah, pemilik kebesaran dan kemuliaan, pemilik kekayaan dan pemberi nikmat, tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Engkau. Engkaulah tempat bersandar dan berlindung dan kepada-Mu-lah tempat yang aman bagi orang-orang yang ketakutan. Ya Allah Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menulis dalam buku besar-Mu (Ummul Kitab) bahwa orang yang tidak berbahagia, yang sangat terbatas mendapat nikmat, yang dijauhkan dari-Mu, atau yang disempitkan dalam mendapat rezeki, maka aku memohon dengan karunia-Mu, semoga Engkau pindahkan aku ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia, luas rezeki, serta diberi petunjuk kepada kebajikan. Sesungguhnya Engkau telah berfirman dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada Rasul-Mu bahwa firman-Mu benar, yang berbunyi ‘Allah mengubah dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya dan pada-Nya sumber kitab. Ya Allah, dengan tajalli-Mu yang Mahabesar, pada malam Nisfu Syaban yang mulia ini, Engkau tetapkan dan Engkau ubah sesuatunya, maka aku memohon semoga dijauhkan dari bencana, baik yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Aku selalu berharap limpahan rahmat-Mu, Ya Allah Yang Maha Pengasih, dan semoga sholawat Allah selalu dilimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya. Ya Allah, kabulkanlah doa kami.”

Doa Nisfu Syaban Versi Kedua
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Allahumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul ‘afwa fa’fu ‘annī. Allahumma innī as’alukal ‘afwa wal ‘āfiyata wal mu’āfātad dā’imah fid-dīni wad-dunyā wal-ākhirah.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan maka maafkanlah aku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf, afiyah, dan keselamatan yang terus-menerus dalam agama dan dunia serta akhirat.” []

Baca Juga:  Kejati Aceh Distribusikan 560 Paket Daging Meugang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *