AS Setujui Penjualan Darurat 12.000 Bom ke Israel

Selain amunisi, penjualan tersebut akan mencakup layanan logistik dan dukungan teknis dari pemerintah AS dan kontraktor.

 

Jakarta-Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat menyetujui penjualan darurat 12.000 selongsong bom ke Israel, seiring kedua negara terlibat dalam perang Timur Tengah yang semakin memanas dengan Iran.

Penjualan selongsong bom seberat 1.000 pon (450 kilogram), senilai sekitar US$ 151,8 juta tersebut, disetujui oleh Biro Urusan Politik-Militer Departemen Luar Negeri.

“Penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Israel untuk menghadapi ancaman saat ini dan di masa mendatang, memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan berfungsi sebagai pencegah terhadap ancaman regional,” kata biro tersebut dalam sebuah pernyataan, melansir detik.com ikutip dari kantor berita AFP, Sabtu (7/3/2026).

Selain amunisi, penjualan tersebut akan mencakup layanan logistik dan dukungan teknis dari pemerintah AS dan kontraktor.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa perusahaan pertahanan utama AS telah setuju untuk melipatgandakan produksi senjata canggih. Ini disampaikan Trump dalam sebuah unggahan media sosial pada hari Jumat (6/3) waktu setempat, seminggu setelah AS dan Israel pertama kali melancarkan serangan terhadap Iran.

Penjualan senjata AS biasanya memerlukan persetujuan Kongres. Namun, kali ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah mengeluarkan pengecualian dengan melewatkan persetujuan tersebut.

“Menteri Luar Negeri telah menetapkan dan memberikan justifikasi terperinci bahwa keadaan darurat telah terjadi yang mengharuskan penjualan segera barang-barang pertahanan dan jasa pertahanan di atas kepada Pemerintah Israel demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat,” kata Departemen Luar Negeri AS, mengutip Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata.

Anggota Kongres Gregory Meeks, seorang Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR, mengatakan bahwa mengabaikan peninjauan kongres atas penjualan senjata tersebut “mengungkapkan kontradiksi yang mencolok di jantung argumen pemerintahan ini untuk perang.”

Baca Juga:  Stok BBM Cukup, Tak Perlu Panic Buyying!

“Pemerintahan Trump telah berulang kali menegaskan bahwa mereka sepenuhnya siap untuk perang ini,” kata Meeks dalam sebuah pernyataan. “Terburu-buru untuk menggunakan wewenang darurat untuk menghindari Kongres, membuat kisah yang berbeda.” “Ini adalah keadaan darurat yang diciptakan sendiri oleh pemerintahan Trump,” cetusnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *